Ketika Ada Suara Batuk yang Aneh bin Ajaib Saat Khotbah Jumat

|Gunawan|

Jumat tadi saya naik mimbar. Menyampaikan khotbah Jumat. Jadwal saya memang. Mau tidak mau, saya harus menunaikan amanah ini. 

Saya menyampaikan khotbah yang saya tulis sendiri. Saya tulis langsung di HP di aplikasi ColorNote. Khotbah sederhana yang saya sajikan ini mungkin memakan waktu sekitar 10-12 menit. Sebenarnya, saya tidak sempat pasang alarm. Tapi, perkiraan saya, durasinya kira-kira segitu. Boleh dibilang, singkat dan padat. 

Sebuah khotbah sederhana lagi pendek. Saya sengaja menulis dan menyampaikan dengan bahasa yang sederhana. Semoga bisa dipahami oleh jemaah. Juga tidak panjang. Saya sengaja menulis yang pendek. Agar jemaah tidak bosan dan menimbulkan "gaduh". Jangan sampai membuat jemaah berteriak dan berdemo. Wah, kalau sampai ini terjadi, sungguh sangat berbahaya. 

Alhamdulillah, pada Jumat kali ini, saya perhatikan tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang batuk. Beda dengan beberapa kali Jumat sebelumnya. Selalu ada yang batuk. Tidak hanya satu orang. Menurut pengamatan saya, suara batuknya tidak biasa. Boleh dibilang, itu sebagai pengingat kepada khatib agar mengakhiri khotbahnya.

Sumber gambar: www.spesialtips.com


Saya jadi teringat dengan salah satu akademisi di tempat saya kuliah dulu. Usai salat Zuhur berjemaah di masjid kampus, pada bulan Ramadan, beliau mendapat bagian untuk menyampaikan Kultum (Kuliah Tujuh Menit).

Tanpa basa-basi, beliau segera naik mimbar. Di atas mimbar, saat menyampaikan materi kultum, beliau hanya menunduk. Tidak menatap ke arah jemaah yang mendengarkan, sebagaimana umumnya para penceramah yang lain. 

Saya penasaran, mengapa beliau begitu 'khusyuk' menunduk. Begitu konsisten. Rupanya, beliau memerhatikan alarm yang dipasang di HP-nya. Ya, beliau pasang alarm di HP. Sebagai pengingat. Agar kultum-nya tak sampai terlalu lama. Namanya juga kultum (kuliah tujuh menit), maka hanya tujuh menit saja waktu yang digunakan. Begitu kira-kira. 

Kebetulan saat itu, seingat saya, materi kultum yang disampaikannya adalah tentang 'Ciri-ciri Orang yang Bertakwa'. Menurut pemaparannya, salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa adalah disiplin waktu. 

Lagi dan lagi, matanya terus menatap layar HP. Terus saja menunduk. Tak pernah menoleh ke kiri atau ke kanan. 

"Karena saya adalah tergolong orang yang bertakwa, maka kultum-nya saya akhiri sampai di sini," katanya di saat menit ke tujuh berakhir, sesuai dengan yang tertera pada alarmnya. Benar-benar tujuh menit.

Sebagian jemaah salat Zuhur, termasuk saya, sempat tersenyum dan tertawa ketika mendengar kalimat terakhir yang beliau ucapkan tersebut. Untung saja ini bukan khotbah Jumat. Untung saja hanya kultum di bulan Ramadan. Jadi, masih bisa senyum atau tertawa bila ada hal lucu yang disampaikan oleh pembicara atau penceramah. 

Ketika Jumat, seorang khatib memang harus bisa membaca suasana jemaah. Jangan sampai khotbahnya terlalu panjang dan memakan waktu lama. Apalagi sampai lebih dari 20 menit, ini bisa membuat jemaah tertidur dan ngorok di tengah keramaian. Jangan sampai ada jemaahnya teriak atau batuk yang dibuat-buat. Ini bisa bahaya. Karena, kalau jemaah sudah mengeluarkan suara batuk yang aneh bin ajaib, itu pertanda bahwa seorang khatib harus peka dan segera mengakhiri khotbahnya. Jangan sampai menambah durasi. 

Ya, cukup menyampaikan materi khotbah yang ringkas saja. Singkat, padat, nggak apa-apa. Asalkan rukun khotbahnya terpenuhi. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 17/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal