Lupa Diri
|Gunawan|
Di saat mentari panas menyengat, orang-orang berteriak kepanasan.
Kapan hujan akan mengguyur bumi?
Kapan hujan akan memekarkan daun yang mulai hilang arti?
Kapan hujan akan menghapus luka yang menyayat hati?
Di saat hujan menghapus kehangatan, orang-orang berteriak kedinginan.
Kapan mentari akan menyapa bumi?
Kapan mentari memberi senyum pada semesta?
Kapan mentari menghangatkan tubuh ini?
Saat aku tak lagi ada di sampingmu, kau menghakimiku semaumu.
Engkau bilang akulah penyebab dari segala luka dan lara yang kau alami kini.
Katamu akulah penyebab dari hubungan yang tak lagi nyaman ini.
Kau melampiaskan semua amarahmu padaku.
Padahal, kau sendiri yang memilih menjauh dan pergi.
Dan kita jua telah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini.
Tanpa ada yang tersakiti.
Lalu, mengapa kini seolah-olah akulah penyebab dari luka yang engkau alami kini?
Kini, aku kian bingung dan hanya bisa membisu.
Saat aku ada, kau menyia-nyiakan.
Kala aku tak ada, kau malah menyalahkan keadaan.
Lagi dan lagi, aku kian bingung dan hanya bisa membisu.
Wallahu a'lam.
Di saat mentari panas menyengat, orang-orang berteriak kepanasan.
Kapan hujan akan mengguyur bumi?
Kapan hujan akan memekarkan daun yang mulai hilang arti?
Kapan hujan akan menghapus luka yang menyayat hati?
Di saat hujan menghapus kehangatan, orang-orang berteriak kedinginan.
Kapan mentari akan menyapa bumi?
Kapan mentari memberi senyum pada semesta?
Kapan mentari menghangatkan tubuh ini?
| Dok. Pribadi: Saat hujan suatu waktu |
Saat aku tak lagi ada di sampingmu, kau menghakimiku semaumu.
Engkau bilang akulah penyebab dari segala luka dan lara yang kau alami kini.
Katamu akulah penyebab dari hubungan yang tak lagi nyaman ini.
Kau melampiaskan semua amarahmu padaku.
Padahal, kau sendiri yang memilih menjauh dan pergi.
Dan kita jua telah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini.
Tanpa ada yang tersakiti.
Lalu, mengapa kini seolah-olah akulah penyebab dari luka yang engkau alami kini?
Kini, aku kian bingung dan hanya bisa membisu.
Saat aku ada, kau menyia-nyiakan.
Kala aku tak ada, kau malah menyalahkan keadaan.
Lagi dan lagi, aku kian bingung dan hanya bisa membisu.
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 30/1
Komentar
Posting Komentar