Catatan Sore Dua Puluh Tujuh Maret
|Gunawan|
Saya baru saja memetik daun kelor. Buat sayur berbuka puasa. Sebelumnya sudah ada daun pare yang diambil. Ada juga daun karinggo (saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya). Ketiga jenis sayuran ini nantinya akan direbus bersamaan, pakai kayu bakar. Sebuah kombinasi sayuran yang saya sukai, salah satunya.
Di ladang memang tak sulit menemukan sayuran. Berbagai jenis sayuran yang tumbuh liar sangat mudah didapat. Tidak dibayar, alias gratis. Ini adalah hal yang biasa bagi kami yang tinggal di pelosok desa. Mungkin bagi sebagian orang yang bermukim di kota, tidak begitu mudah mendapatkan berbagai jenis sayuran semacam ini. Mungkin juga semuanya serba dibeli.
| Dok. Pribadi: Daun kelor, pare, dan karinggo |
Beberapa saat kemudian, usai mengambil daun kelor, tiba-tiba hujan datang menyapa. Disertai angin kencang pula. Saya agak khawatir. Khawatir karena hujan disertai angin kencang. Saya takut jagung yang sudah kering dan dimasukkan ke dalam karung kembali basah.
Saya segera menuju tempat jagung tersebut disimpan. Di bawah rintik-rintik hujan dan angin kencang, saya segera melangkahkan kaki dan hanya memakai celana pendek. Tak pakai baju. Saya berkelahi dengan hujan, basah-basahan.
Rupanya, kekhawatiran saya tidak terjadi. Syukur alhamdulillah. Hanya karung kosong yang basah. Namun, saya tetap berdiam diri di situ. Jaga-jaga agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Saya basah kuyup. Meskipun begitu, saya tetap sigap di tempat itu.
Di saat menjemur jagung seperti ini, sesungguhnya yang sangat diharapkan adalah sinar mentari yang terus menyapa. Agar jagung cepat kering dan segera ditimbang atau diangkut ke gudang untuk dijual. Namun, karena masih dalam suasana musim hujan, hadirnya hujan yang tiba-tiba tak mungkin bisa dibendung. Hanya bisa pasrah. Mau bagaimana lagi?
Orang tua biasanya sering ngomel kalau hujan tiba-tiba datang saat menjemur jagung seperti ini. Ditambah lagi puasa begini, biasanya kekuatan fisik tak sehebat di luar Ramadan. Sementara, kuantitas jagung yang dijemur saat puasa tak beda jauh dengan jagung yang dijemur saat di luar waktu puasa, bisa belasan sampai puluhan terpal. Walaupun begitu, kami tetap bekerja semaksimal mungkin. Ya, meskipun tiap hari menjalankan ibadah puasa, kami tetap bekerja sebagaimana biasanya di hari-hari yang lain. []
Wallahu a'lam.
So Rora, 27/3
Komentar
Posting Komentar