Hujan, Halilintar, dan Sahur Perdana

|Gunawan|

Saya sedang memotong kayu bakar. Kayu jati. Sembari menunggu Magrib tiba. Cuaca tidak terlalu dingin. Juga tidak panas. Angin sepoi turut menghampiri. 

Saya perhatikan, Rabu sore, 22 Maret 2023, di wilayah Dompu tampak ada beberapa titik hujan. Hujan terus mengguyur hingga langit tak lagi tampak biru.

Tak disangka, titik hujan di Dompu tersebut tak lama kemudian menyebar ke mana-mana. Termasuk sampai juga di tempat saya. Mengguyur, membasahi area di sekitar ladang. 

Dok. Pribadi: Sebelum hujan mengguyur So Rora

Tanah yang semula tak berair, tiba-tiba tergenang air. Banjir pun perlahan mengisi parit. Jagung yang dijemur di hari pertama yang baru terkena sinar matahari, basah seketika. Tanah tempat menjemur jagung juga tergenangi air. 

Tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menyaksikan hujan yang turun yang kian deras. Di tengah derasnya hujan, gemuruh halilintar turut menyapa bumi. Kilatannya tampak jelas beberapa kali. Hingga malam pun tiba, mata petir masih saja terlihat.

Ini adalah malam perdana sahur. Ya, bulan Ramadan 1444 Hijriah telah tiba. Saya, kedua orang tua, dan adik bungsu bermalam di ladang. Mau tidak mau, sahur pun harus dinikmati di ladang. 

Saya lihat, Ibu bangun masak sekira jam 1 malam. Seperti biasa, masak pakai kayu bakar. Lalu, beliau kembali tidur. Kami tidak langsung makan pada saat itu juga. Lagian interval waktu sahurnya juga masih lama. 

Kami bangun lagi sekira pukul 3 dini hari, jika tidak salah. Lantas, membersiapkan segala sesuatu untuk keperluan makan sahur. Untungnya sore harinya kami sengaja beli satu ekor ayam. Jadi, sebagiannya kami nikmati saat sahur. Tidak ada sayur. Hanya nasi dan ayam saja menu sahur perdana ini. Ayamnya direbus. Ada kuahnya. Kuahnya tersebut sebagai ganti sayur. Kira-kira begitu.

Suatu kenikmatan tersendiri karena masih bisa menyapa Ramadan kembali. Syukur alhamdulillah. Semoga segala amal diberkahi oleh Sang Pencipta. Amin. []

Wallahu a'lam. 

So Rora, 23/3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal