Nggak Apa-apa Sedikit, yang Penting Rutin

|Gunawan|

Sampai sejauh ini, aktivitas menulis kian menjamur. Media sosial adalah salah satu pilihan sebagian orang untuk merangkai kata. Ada yang memanfaatkan Facebook, Instagram, blog pribadi, dan berbagai media sosial lainnya. 

Tentu saja, ini merupakan berita gembira dalam dunia literasi. Sebuah fenomena yang tentunya perlu diapresiasi. Apalagi, saya perhatikan, tidak sedikit penulis yang muncul dari kalangan anak-anak dan remaja. Ada yang masih usia sekolah hingga baru masuk kuliah.

Minat mereka tentu saja beragam. Ada yang spesialis puisi. Ada yang merangkai cerpen. Ada yang suka nulis novel. Juga berbagai ragam tulisan lainnya. Apa pun itu nggak menjadi masalah. Semuanya bagus. Yang penting, masih ada orang yang mau memproduksi kata demi kata. 

Karya-karya mereka tersebut tidak lahir begitu saja. Ada proses yang harus ditempuh. Menulis dan terus menulis adalah wajib dilakukan. Juga ada waktu dan tenaga yang harus dikorbankan. Harus mampu menundukkan segala yang menghambat dalam proses menulis. 

Biasanya, orang-orang punya cara atau rumus tersendiri untuk menghasilkan tulisan. Antara penulis yang satu dengan penulis yang lain memiliki proses kreatif yang berbeda. Proses kreatif menulis yang berbeda ini, tentu saja bisa menjadi pijakan bagi penulis lainnya atau orang-orang yang ingin mewujudkan karya tulisnya. 

Saya sendiri, misalnya, salah satu cara yang ditempuh untuk memproduksi kata demi kata adalah menulis sedikit demi sedikit. Ini rutin saya lakukan. Tiap hari. Menulis apa saja yang bisa ditulis. Juga mencoba menulis berbagai genre atau ragam tulisan. 

Dok. Pribadi: Salah satu quotes saya di IG

Perihal tulisan yang sedikit tiap hari tersebut, tentu saja tidak semuanya untuk dikonsumsi publik. Ada juga yang tidak saya bagikan ke publik, alias untuk dinikmati oleh saya sendiri. Namanya juga untuk dikonsumsi sendiri, jadi nggak perlu saya jelaskan secara detail tulisan tentang apa itu.

Saya begitu menikmati proses menulis yang dilakukan sedikit demi sedikit seperti yang dimaksud. Apalagi saya menulisnya menggunakan telepon genggam. Jadi, relatif mudah dilakukan. Jika menemukan ide, bisa langsung menulis pada saat itu juga. Jika tidak, minimal mencatatnya terlebih dahulu, untuk kemudian dikembangkan menjadi tulisan utuh di lain waktu.

Karena rutin dilakukan, tulisan yang ditulis sedikit demi sedikit tersebut menjadi banyak juga. Bahkan, di kemudian hari bisa menjadi buku demi buku. Sebuah aktivitas yang tidak sia-sia. 

Saya kira, Anda yang bermimpi memiliki tulisan atau buku karya sendiri, rumus ini bisa Anda pakai atau terapkan. Anda cukup menulis sedikit demi sedikit. Patokannya nggak ada yang baku. Dalam sekali menulis, bisa satu atau dua paragraf. Bisa juga dua atau tiga kalimat. Terserah Anda, mau berapa kata dalam sekali menulis.

Ya, nggak apa-apa sedikit, yang penting menulis. Yang penting ada tulisan yang dihasilkan. Yang penting rutin dilakukan. Suatu saat nanti, tulisan yang ditulis sedikit demi sedikit tersebut, jika rutin dan terus-menerus dilakukan, maka akan menjadi banyak juga. Nggak percaya? Silakan dicoba dan mulailah menulis! []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 2/3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal