Sesama Jomlo Harus Saling Bela

|Gunawan|

Jemaah jomlo tiba-tiba berkumpul dalam satu tempat. Tidak ada janjian sebelumnya. Mungkin sudah menjadi takdir, sehingga mereka bisa berjumpa dalam satu frekuensi.

Layaknya kaum yang sudah berkeluarga, jemaah jomlo juga punya bahan cerita. Meski (mungkin) ceritanya biasa saja, namun tetap saja mengandung makna. Tentu saja, ini menurut sesama kaum jomlo, kaum yang masih setia dengan bayangannya sendiri.

Bagaimanapun juga, ketika sesama jomlo berkumpul, curhat perihal kehidupan pribadi tak bisa dihindarkan. Cerita patah hati atau putus cinta menjadi salah satu yang rupanya masih hangat dalam ingatan kaum jomlo. Tak jarang, bola matanya berbinar-binar ketika kisah patah hatinya diutarakan. Ada titik air di bola matanya.

Dok. Pribadi: Suatu siang di bawah langit So Rora

Jemaah jomlo yang (semoga saja) berbahagia. Mari kita simak dialog receh sesama kaum jomlo berikut ini. Semoga yang patah hati menemukan solusi.

"Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga," ucap Anas menghibur diri, mengutip lirik lagu.

"Aku sudah bosan dengan yang namanya jatuh cinta terlalu dalam. Karena, aku sudah merasakan bagaimana sakitnya ketika patah dan dikhianati," kata Nadia yang sedang menatap layar HP yang duduk di samping Anas. Rupanya, ia masih memantau status Facebook sang mantan. Masih gagal move on, mungkin.

"Bagaimanapun juga, seseorang yang (mungkin) pergi tanpa pamit itu pernah mengisi ruang hati kita. Ia adalah orang yang pernah mewarnai hidup kita. Ikhlaskan yang pergi, dan mari kita cari penggantinya lagi," kata La Ona dengan penuh semangat dan tak bisa menahan tawa. Entah itu tawa bahagia, atau mungkin itu tawa untuk menutup luka yang masih membekas di hatinya. 

"Sampai kini, aku masih belum bisa melupakannya. Bayang-bayangnya masih menari-nari di kepalaku. Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan agar ia tak lagi menghantui hari-hariku. Tolong aku, Saudara-saudara!" beber La Mahani, mencoba menyampaikan apa yang kini masih dialaminya.

"Jika siap jatuh cinta, maka harus siap juga yang namanya patah hati," kata Rama, mengejek temannya, Nadia, yang masih belum bisa move on dari sang mantan. 

"Tenang saja. Cepat atau lambat, akan datang seseorang yang akan menyempurkan hidup kita. Seseorang yang mau menua bersama kita. Mau menerima kita apa adanya, termasuk menerima segala kekurangan yang ada pada diri kita. Kini, tugas kita adalah memantaskan diri masing-masing. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Segeralah sembuh, wahai kamu-kamu yang masih rapuh dan patah," ucap La Dula Hami dengan senyum manis. Teman-teman yang lain serentak melirik ke arah La Dula Hami. Mereka tak menyangka La Dula Hami bisa mengucap kata-kata sekeren itu. Padahal, dulu, ia adalah orang yang mudah menangis ketika diputusin oleh sang pacar. 

"Abadikan saja dalam tulisanmu seseorang yang pernah membuatmu patah, yang dulu pernah kau jadikan pacar. Ini adalah cara balas dendam yang paling elegan. Puji ia dengan kata-kata manis lagi puitis. Lalu, bunuh ia secara pelan-pelan dengan kata-kata juga. Biar ia tahu rasa," kata Nasri dengan penuh emosi. Dia masih belum bisa menerima sepenuhnya terhadap kenyataan yang terjadi. 

"Menjalani hidup ini memang tidak mudah. Ada banyak rintangan yang harus dilewati. Tidak hanya tentang bahagia. Tidak melulu soal senyum ceria. Dalam hidup juga akan ada luka dan duka. Akan ada saatnya juga kita berderai air mata. Termasuk patah hati atau putus cinta, harus juga kita terima dengan penuh ikhlas dan lapang dada, tak perlu disesali," kata Duruhama dengan penuh bijak. Padahal, baru tiga hari yang lalu dia diputusin oleh sang pacar. Lantas, mengurung diri dalam kamar dengan penuh air mata penyesalan. 

Ya, begitulah ketika jemaah jomlo berkumpul. Tak jarang mengundang tawa. Apa pun itu, sesama jomlo harus saling bela. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 26/2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal