Menjadi Siswa Penulis Buku

|Gunawan|

Menulis buku sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja yang melek aksara. Semasih ia bisa mengenal huruf dan membaca, ia punya potensi kuat untuk bisa menulis buku juga. Asalkan ia ada niat untuk menulis dan juga ada usaha serius untuk mewujudkan niatnya itu.

Jika hari ini kita bermimpi ingin punya buku karya sendiri, maka saat ini juga kita harus segera mengajak jemari tangan kita secara perlahan untuk menulis buku yang dimaksud. Tulis sedikit demi sedikit. Lakukan sesering mungkin. Kelak, buku karya sendiri yang diinginkan itu akan lahir juga. Silakan dipraktikkan saja mulai dari sekarang trik sederhana ini!

Dok. Pribadi: Salah satu buku koleksi pribadi

Saat ini, menulis buku juga tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa atau para orang tua saja. Anak seusia sekolah pun rupanya sudah banyak yang mampu menulis hingga menerbitkan buku sendiri. Program 'Satu Siswa Satu Buku' yang digagas oleh MediaGuru telah banyak melahirkan siswa penulis. Saya sering kali membaca dan mengikuti berbagai informasi yang berkaitan dengan siswa-siswi yang berhasil menulis buku karyanya sendiri melalui berbagai jejaring sosial MediaGuru yang dimaksud. Berita baiknya, di setiap pelatihan menulis, selalu ada siswa baru yang mampu melahirkan buku karyanya sendiri. 

Dalam buku 'Kisah Inspiratif Keluarga Penulis' juga menarik untuk disimak dan dijadikan contoh baik dalam hal menulis buku. Dalam buku ini, salah satu yang dijelaskan adalah bagaimana satu keluarga semuanya mampu menulis buku karyanya sendiri. Tidak hanya orang tua, namun juga anak-anaknya yang berusia sekolah sudah bisa menulis atau menelurkan bukunya sendiri.

Sebut saja Nuha, anak pertama dari keluarga penulis tersebut. Di usianya yang masih 15 tahun, ia sudah melahirkan tiga judul bukunya sendiri. 'Kecil-kecil Punya Karya: The Rainbow School', 'Sepeda untuk Sahabat', dan 'We are the Stars' adalah ketiga judul bukunya yang dimaksud. 

Rupanya, kedua adiknya Nuha juga tidak kalah menarik. Nida yang berusia 11 tahun dan Nafis yang berusia 7 tahun pun sudah mampu menulis buku. Keduanya berada dalam dua buku yang sama dengan judul 'Hadiah untuk Badut' dan 'Ananda Bercerita'. 

Ketiga anak Joko Susanto dan Jamilatun Heni Marfu'ah tersebut adalah hanyalah contoh segelintir siswa yang telah berusaha keras mewujudkan mimpi menjadi siswa penulis. Tentu saja, di luar sana, ada banyak lagi siswa yang telah mampu menelurkan buku karyanya sendiri. Boleh jadi juga Anda yang sedang membaca tulisan sederhana saya ini adalah bagian dari yang saya sebutkan tersebut. 

Saat ini, belajar menulis bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja kita mau. Di era digital dan media sosial yang kian menjamur ini, belajar menulis buku karya sendiri tidaklah sesulit zaman dulu. Bila Anda adalah seorang siswa dan ingin punya buku karya sendiri, silakan mulai wujudkan mimpinya itu. Ubah mimpi tersebut jadi nyata. 

Mulailah belajar menulis dari sekarang juga. Belajar dari mana saja yang Anda sukai. Bisa dari buku. Bisa dari internet. Bisa juga dari bimbingan guru. Atau dari media apa saja yang disukai. Namun, apa pun media belajarnya, yang paling menentukan adalah diri Anda sendiri. Motivasi terbesar agar seseorang mampu menulis buku karya sendiri--menurut saya--harus lahir dari dalam diri sendiri. Bagaimanapun bagusnya motivasi yang datang dari orang lain, kalau Anda sendiri tak segera menulis, buku apa pun yang diimpikan tak akan pernah lahir. Mulai menulis, terus menulis, dan tetap menulis adalah kunci agar siapa saja (termasuk siswa) mampu menulis hingga menerbitkan bukunya sendiri. []

Wallahu a'lam. 

Lereng Lareda, 4/3/'24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Erizeli Jely Bandaro dan Dunia Menulis

Menulis Buku Itu Butuh Waktu

Salah Naik Kapal