Satu Hal yang Membuat Saya Panik
|Gunawan|
Pagi itu, langit mendung. Tak ada tanda-tanda sang surya menampakkan dirinya. Hanya awan kelabu yang terlihat menyelimuti semesta.
Saya bersama seorang teman berencana mengeksplor alam di sekitar. Sekaligus mencari berbagai jenis sayuran yang tumbuh liar.
Kami pun berangkat. Melalui jalan setapak. Jalan setapaknya masih basah dan berlumpur.
Kami memilih menelusuri sepanjang tepi sungai. Memetik berbagai sayuran yang dilihat di sisi kiri kanan sungai yang dimaksud.
Tentu saja, tidak mudah menginjakkan kaki di antara tumpukkan bebatuan di sepanjang aliran sungai. Sebab, tak sedikit lumut yang menempel di bebatuan tersebut.
![]() |
| Dok. Pribadi: Aliran air Sungai Lareda |
Bahkan, kali ini, saya sempat terjatuh saat menginjak sebuah batu besar yang berlumut. Untungnya tangan saya cepat sigap. Hanya sakit sesaat saja.
Namun, HP saya ikut menjadi korban juga. HP yang saya taruh di kantong celana, jatuh dan terendam air sungai. Saya sempat menghabiskan waktu kurang lebih satu menit untuk mencari HP yang jatuh di aliran air sungai tersebut.
Tentu, saya panik. Apalagi ini adalah satu-satunya HP saya. Terlebih lagi di dalamnya terdapat banyak file yang saya simpan. Termasuk beberapa naskah buku baru yang saya ketik langsung di HP ini dan belum sempat dipindahkan ke flashdisk atau ke email atau tempat penyimpanan lainnya.
Saya semakin panik ketika tiba di rumah dan melihat HP saya ternyata bermasalah. Di layarnya tak lagi tampak berbagai aplikasi yang dulunya sempat saya unduh, termasuk aplikasi bawaan HP-nya langsung. Hanya warna biru dan sedikit putih yang tampak di layar depan telepon genggam tersebut.
Meski panik, saya tetap berusaha mencari solusi. Untungnya saya masih ingat kejadian dulu sekali. Bahwa ketika telepon genggam terendam air dulu, saya langsung memasukkan ke dalam tumpukkan beras di dalam ember. Dan ini juga saya lakukan pada HP baterai tanam yang terendam air di sungai kini: memasukkan atau menyimpan HP ke dalam tumpukkan beras di ember. Namun sebelumnya, HP-nya saya matikan atau nonaktifkan terlebih dahulu. Juga melepas semua kartu HP (SIM) dan kartu memori yang ada di dalamnya.
Delapan jam lamanya saya simpan HP di tumpukkan beras tersebut. Dengan masih ada rasa panik, saya mengambil HP itu. Lalu, menghidupkannya lagi. Dan alhamdulillah, HP saya masih bisa hidup dan berfungsi kembali seperti semula. Hanya saja, penampakkan layarnya tidak semulus dulu saat sebelum terkena air. Tapi, setidaknya berbagai file atau data-data penting di dalamnya masih aman dan tak hilang. Syukur alhamdulillah. Ini adalah sebuah pengalaman yang cukup mendebarkan dada dan sempat membuat saya panik. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 13/3/'24
[CHASP-155A]

Komentar
Posting Komentar