Sungai Lareda
|Gunawan|
Saya tinggal di kampung. Tepatnya di Desa Bumi Pajo. Letaknya di sekitar gunung Lareda. Dulu, di sekitar kampung sini begitu sejuk dan asri. Sekarang, sudah tak lagi sesejuk dulu. Tak jarang panas menyengat. Hutan yang dulu asri lagi hijau, kini perlahan menghilang dan dibabat oleh keserakahan anak manusia.
Di sekitar kampung tempat saya tinggal, ada sebuah sungai yang relatif panjang. Ia memanjang sampai ke Kabupaten Dompu. Namanya sungai Lareda. Jarak dari kampung saya ke sungai ini kurang lebih tiga ratus meter.
| Dok. Pribadi: Sungai Lareda |
Sungai Lareda punya banyak manfaat. Airnya yang jernih biasanya dipakai minum warga atau para petani di sekitar. Juga buat keperluan lainnya. Dulu waktu kecil, kami sering mandi di sungai ini.
Sungai Lareda juga terdapat ikan. Anak-anak muda biasanya memancing ikan di sini. Meskipun ikannya kecil-kecil, tetap saja banyak yang datang memancing di sini.
Yang tak kalah menarik juga di sungai Lareda adalah terdapat banyak sayuran. Ada yang tumbuh di tengah-tengah sungai. Tak sedikit juga yang tumbuh di sisi kiri kanan sungai.
Jenis sayuran di sungai Lareda ada banyak. Ada pakis atau paku (ini adalah sayuran yang paling banyak dijumpai di tempat ini). Ada juga sayuran yang tumbuh di tebing licin: namanya di kampung kami adalah 'manura'. Di samping itu, ada juga sayuran sejenis 'mevo', pare, 'karinggo', 'nggusu'.
| Dok. Pribadi: Mengambil sayuran 'manura' dari bawah dengan galah |
| Dok. Pribadi: Menaiki tebing untuk mengambil/memetik sayur 'manura' |
Hanya saja, tidak mudah menelusuri sungai Lareda. Bagi pemula yang datang ke sini, harus ekstra hati-hati dan jangan pergi seorang diri.
Di sungai Lareda ada banyak bebatuan besar. Dan juga bebatuannya tak sedikit yang licin. Banyak lumut. Apalagi di saat musim hujan, meletakkan kaki di atas batu-batu besar di sungai Lareda harus ekstra hati-hati.
Saya sarankan bagi pemula yang menginjakkan kaki di sungai ini agar tidak memakai sandal. Lepas aja sandalnya kalau mau jalan menelusuri sungai ini, terlebih di saat airnya deras atau banjir. Sebab, batu-batu yang terdapat di dalamnya begitu licin. Saya sendiri tak jarang jatuh berkali-kali ketika menelusuri sungai ini. Karena memang medannya relatif berat dan rumit.
Di sungai ini, saya kerap kali mencari sayuran. Seperti hari ini misalnya. Bersama seorang teman, tadi pagi saya menelusuri aliran sungai Lareda. Kalau diukur--pulang pergi sepanjang sungai--mungkin kurang lebih dua kilometer. Lumayan letih. Apalagi di sungai ini kami menghabiskan waktu lebih dari empat jam lamanya. Ditambah lagi puasa. Lelahnya sudah pasti.
| Dok. Pribadi: Beberapa jenis sayuran yang didapat saat menelusuri sungai Lareda |
Ada banyak sayuran yang kami dapat tadi. Semua jenis sayuran yang saya sebutkan di atas, saya bawa pulang. Meski letih, namun terbayar dengan banyaknya sayuran yang didapat dan dibawa pulang. Saat di perjalanan pulang dan tiba di kampung, sayuran-sayuran itu saya bagikan ke beberapa tetangga juga.
Bukan satu atau dua kali saja saya menelusuri sungai Lareda ini, melainkan sudah sering kali. Lebih seringnya saya menelusuri sungai Lareda ini adalah seorang diri. Menyendiri. Kadang untuk mencari sayuran. Kadang juga sekadar untuk melepas penat, melihat pemandangan alam sekitar. []
Wallahu a'lam.
Lereng Lareda, 23/3/'24
[CHASP-158A]
Komentar
Posting Komentar